Guyonan dan Improvisasi Jadi Ciri Khas Teater Gandrik

Jakarta - Jika Teater Koma memiliki tradisi menghapal dialog sesuai dengan naskah yang ditulis, berbeda dengan kelompok Teater Gandrik. Teater yang berdiri 13 September 1983 tersebut justru memberi ruang kepada para pemain untuk improvisasi.

Hal ini dikatakan penggiat Gandrik Butet Kartaredjasa sebelum pementasan 'Tangis' di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) beberapa waktu yang lalu. "Setiap kelompok teater punya tradisi masing-masing. Sejak awal berdiri Gandrik yah beginilah," tuturnya.


Meski begitu, para pemain tetap harus patuh pada jalan cerita yang sudah ditulis oleh penulis naskah pementasan. "Gandrik tetap ngeguyon dan nyentil sesuai gayanya. Tapi alurnya tetap harus sejalan," kata Butet.


Baca Juga: Teater Gandrik Pentaskan Keliling 'Tangis' ke Jakarta dan Jawa Timur


Pendiri sekaligus pemain senior dari Gandrik, Susilo Nugroho juga mengatakan hal yang sama. "Istilahnya konsep naskahnya gede tapi sesuai dengan kemampuan masing-masing," ucapnya.


Teks dan dialog dari naskah bisa berlembar-lembar banyaknya tapi para pemain dibebaskan untuk 'ngomong ngawur', atau 'guyon' masing-masing.


"Di beberapa adegan ada juga yang pinter itu penontonnya yang giring kami untuk bermain," kata Susilo.


Pemain buruh pabrik batik dalam lakon 'Tangis' yang digelar kemarin di TBY, M.Arif 'Broto' Wijayanto juga mengatakan ilmu yang dipelajari ketika di ISI Yogyakarta berubah ketika masuk ke Gandrik.


"Langsung ilang ilmunya. Muncul sesuatu yang baru dan itu refresh semuanya dan akan ada sesuatu yang baru lagi. Menurut saya ini yang asyik ketika berproses di Gandrik," tambahnya.


(tia/mmu)