Agnes Budhisurya Bermimpi Satukan Pergelaran Busana, Wayang dan Pameran Lukisan

Jakarta - Berawal dari hobi melukis, Agnes Budhisurya dikenal sebagai desainer yang punya ciri khas tersendiri. Karya lukisnya dituangkan pada sebuah rancangan busana yang memukau.

Tapi, tidak itu saja. Kreativitas Agnes juga mengalir bebas diatas kanvas. Tangannya lebih sering melukis keindahan semesta seperti dedaunan, kupu-kupu, bunga, dan alam sekitar. "Saya senang juga berkebun. Maka dari itu kebanyakan obyek lukis saya tentang alam," kata Agnes kepada detikHOT Jum'at (16/8/2013).


Seperti mimpi kebanyakan pelukis, ia ingin suatu saat menggelar pameran tunggal bertema wayang. Akan lebih sempurna jika dikolaborasikan dengan pameran lukisan. Namun, ia belum tahu kapan mimpi itu bakal terwujud.


"Ya, saya ingin pameran baju sejalan dengan pameran kanvas. Cuma ya masih jauh-lah. Saya ini belum terkenal, sebagai pelukis kanvas, jadi sekarang baru mengumpulkan lukisan saja," ujarnya. Karya lukisan kanvas tersebut tidak dibiarkan terpajang di dinding rumah, melainkan ada sebagian yang dijual. Agnes pun kerap kali menerima pesanan dari orang yang menyukai hasil karyanya.


Walaupun minatnya jatuh pada bidang seni, wanita berusia 68 tahun ini mengaku bukan seniman tulen. Dia bilang, seniman tulen mengerjakan sesuatu berdasarkan mood. "Seniman itu suka ekstrim. Kalau lagi nggak mood, ya ga akan dikerjakan. Tapi, saya nggak bisa seperti itu. Saya bukan seniman tulen karena punya klien dan harus bersikap profesional," kata Agnes.


Untuk menjadi profesional, lanjutnya, yang diperlukan hanya melawan emosi serta mood yang tidak baik. Caranya, dengan memberlakukan waktu deadline. "Deadline itu membantu saya melawan emosi atau mood tidak baik. Misal ada pesanan baju atau mau show, kalau sudah dekat deadline, ya mau nggak mau harus dikerjakan," ujarnya.


***


Tak hanya ingin membuat peragaan busana digabung dengan pameran lukisan, Agnes suatu saat ingin membuat peragaan busana bertema wayang dan dalang.


Meski belum tahu kapan keinginan itu terwujud, Agnes sudah mulai membuat lukisan-lukisan yang terinspirasi dari kisah Dewi Kunti, tokoh pewayangan ibu dari Pandawa Lima. "Saya suka cerita Kunti, bagus sekali. Filosofinya seorang ibu yang mengajarkan anaknya berbagi," kata Agnes.


Dia berangan, pergelaran tersebut akan diiringi oleh sajian musik tradisional dan tata panggung mewah khas dunia pewayangan. Desain busananya pun bakal memuat lukisan-lukisan berseri dengan cerita Dewi Kunti serta seri wayang klasik sampai modern. "Saya ingin menggarap ini. Saya akan buat ini dengan musik tradisional. Pokoknya sudah ada bayangan," ujarnya.


Kecintaan Agnes pada wayang, berasal dari sang bunda yang hobi membaca dongeng tentang serial pewayangan. Dari situ ia kagum dan terpikat dengan alur cerita. Kepada detikHOT, anggota Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) itu sempat menunjukkan karya lukis bertema Kunti yang diaplikasikan pada kain sutra warna putih.


Walaupun demikian, menggelar pergelaran tunggal bertema wayang cukup memberi tantangan. Pasalnya, untuk melukis tema tersebut diperlukan detil yang jauh lebih rumit serta waktu pengerjaan yang lama. "Agak berat menuangkan wayang ini karena sedikit sekali spontanitasnya. Tapi, itulah tantangannya," ujar Agnes.


***


Tidak hanya berasyik-asyik sendiri dengan kemampuan melukisnya di atas kain, Agnes kini mulai berpikir untuk mencari penerusnya. Tapi ini memang tak mudah.


Agnes berpikir untuk menciptakan produk kolaborasi antara batik daan seni lukis yang disebutnya sebagai batik lukis. Saat ini Agnes sudah punya cukup banyak membina pengrajin batik yang berasal dari Yogyakarta. "Kalau murni lukis sangat susah diturunkan. Tapi, kalau batik lukis mungkin saya bisa menurunkannya," kata Agnes.


Agnes memperkirakan produk ini belum ada di Indonesia. Dia kini sedang menjajaki kemungkinan dimana Agnes akan membuat desain dan artnya, sementara beberapa teknik seperti pewarnaan akan memasukkan teknik batik. Kapan karya batik lukis tersebut diluncurkan? "Ya, inginnya dalam waktu dekat-lah. Doakan saja," ujar Agnes.


(utw/utw)