Agenda Seni Akhir Mei: dari Sirkus Barock Hingga Tari Jawa

Jakarta - Koreografer kondang Retno Maruti akan kembali menampilkan karyanya. Kali ini ia akan mempersembahkan tari klasik Jawa Surakarta, 'Lelangen Beksan'. Jenis tarian ini dirasakan banyak dikangeni oleh para penggemar tari klasik Jawa khususnya, dan penggemar tari pada umumnya.

'Lelangen Beksan' produksi Padneswara pimpinan Retno Maruti akan mengisi agenda acara Taman Ismail Marzuki (TIM) di paruh kedua Mei ini. Pertunjukan tersebut akan digelar di Graha Bhakti Budaya, 25 dan 26 Mei 2013.


'Beksan' merupakan istilah 'bahasa tinggi' untuk menari, dan merupakan salah satu warisan leluhur kraton Jawa. Gelaran 'lelangen' akan menampilkan sejumlah tarian, yakni Sukoretno, Sekar Putri, Retno Pamudyo, Sancoyo Kusumowicitro dan Kumolobumi. 'Lelangen Beksan' akan digarap dari dua sisi, antara klasik Jawa dan kreasi baru.


Agenda lainnya adalah konser 'Cerita dari Jalanan' oleh grup musik Sirkus Barock yang akan digelar di tempat yang sama, pada 31 Mei. Sirkus Barock merupakan kelompok musik yang selalu menyerap inspirasi , gagasan, maupun rangsangan kreatif dari masyarakat, termasuk cerita-cerita kehidupan dari jalanan.


Konser Sirkus Barock kali ini didukung oleh sejumlah seniman musik berkelas antara lain Sawung Jabo (gitaris dan vokal) dan Toto Tewel (lead gitar dari grup Swami dan Kantata Takwa). Selain itu mereka juga menampilkan bintang tamu Oppie Andaresta.


Sebelum dua acara tersebut, ada pameran lukisan dari Yayak Kencrit Yatmaka di Galeri Cipta III, masih di kompleks TIM, yang dibuka Jumat (17/5/2013) malam nanti. Dalam pamerannya kali ini, pelukis kelahiran Yogyakarta, 1956 itu mengusung tema 'Gambar Sebagai Senjata dan Rakyat Berjiwa Merdeka’. Selain pameran karya yang akan berlangsung hingga 29 Mei, akan digelar juga lokakarya dan diskusi.


Yayak adalah pelukis lulusan jurusan Desain Grafis, ITB pada 1977. Ia juga dikenal sebagai pembuat publikasi perlawanan seperti poster, buku dan komik. Karyanya banyak menampilkan tema tentang masalah pekerja anak.


Pameran tunggalnya di TIM pada 1984 bikin heboh di era pemerintahan Orde Baru. Gara-garanya, ia membuat poster kalender berjudul 'TUR' (Tanah Untuk Rakyat), yang merujuk pada konflik pertanahan antara rakyat dengan pemerintah di beberapa tempat. Ia pun dituduh menghina Presiden Soeharto kala itu, dan dikejar-kejar aparat. Ia mengasingkan diri ke luar negeri, dan menetap di Jerman hingga 2005.


(mmu/mmu)