Film garapan sutradara Asrida Elisabeth itu menceritakan tentang kehidupan seorang perempuan Papua, bernama Halosina. Dengan penuh emosi Halosina harus mengurus empat anaknya di balik tekanan kehidupan yang tidak adil.
Asrida dengan apik mengambil sudut pandang kehidupan Halosina serta indahnya alam Papua yang hijau. Babak wawancara satu subjek yang biasa terdapat di film dokumenter hampir tidak ada.
"Sebetulnya tipe film dokumenter itu banyak, ada juga yang wawancara seperti itu. Cuma kan sayang, alamnya bagus, budaya sehari-harinya bagus. Jadi kalau cuma wawancara doang kurang banget," jelas produser 'Tanah Mama' Nia Dinata, saat berkunjung ke Kantor detikHOT, beberapa waktu lalu.
"Jadi kita gunakan konsep seperti itu. Kalau mau diberi nama, yang tepat 'Tanah Mama' drama naratif ya," sambung Nia Dinata lagi.
Namun, tidak mudah membuat 'Tanah Mama' ringan untuk dinikmati. Ada perubahan-perubahan yang terjadi dari konsep awal yang dibawa Asrida.
"Saya juga baru tahu ada film dokumenter seperti itu. Karena sebelumnya yang saya tahu dokumenter yang seperti dokumentasi. Makanya pas ketemu Teh Nia (panggilan Nia Dinata), saya disuruh ubah lagi sudut pandang pengambilan gambarnya," jelas Asridak dengan logat Papua yang khas.
"Tapi, ini suatu pengalaman yang seru buat saya. Ini film pertama saya yang besar dan dibantu langsung oleh mentor-mentor hebat. Banyak sekali belajar hal baru," sambungnya lagi.
Keterlibatan Asrida Elisabeth sebagai sutradara merupakan bagian dari Project Change yang diprakasai Nia Dinata di bawah bendera Kalyana Shira Foundation. Lewat proyek ini, sutradara 'Arisan' itu membuka kesempatan bagi siapapun yang mau membuat film, fiksi maupaun dokumenter, setelah lebih dulu melalui proses seleksi.
'Tanah Mama' sampai hari ini masih tayang di bioskop Jakarta, Bekasi, Bandung dan Yogyakarta.
(mif/mmu)