'Negeri Tanpa Telinga', Bentuk Kemerdekaan dalam Berkarya

Jakarta - Tema politik dan kekuasaan yang diangkat dalam film 'Negeri Tanpa Telinga' mungkin tak akan pernah bisa tayang di masa Orde Baru. Film tersebut merupakan bentuk kemerdekaan dalam berkarya.

Tiap warga negara Indonesia selalu memperingati hari kemerdekaan setiap 17 Agustus. Masing-masing memiliki cara sendiri untuk memaknai hari bersejarah tersebut.


Bagi orang-orang yang terlibat di industri kreatif, tentunya kemerdekaan adalah senjata menegakkan idealisme dan menyuarakan kegelisahan. Hal yang terbilang mewah dan berisiko ketika masa Orde Baru.


Sudah bukan rahasia apabila banyak seniman, penulis, musisi, dan pembuat film yang bermuatan politis harus mempertaruhkan nyawanya jika 'terlalu berisik', salah satunya Wiji Thukul yang sampai hari ini masih dicari keberadaannya.


Lola Amaria selaku produser dan sutradara 'Negeri Tanpa Telinga' mengangkat tema yang lantang untuk film ketiganya, sebagai bentuk kepedulian sekaligus kegelisahannya akan kondisi politik yang buram. Filmnya itu dibuat sedekat mungkin dengan realitas, ditambah bumbu parodi.


"Komedi satir di film ini membuat kita menertawakan keadaan," katanya kepada detikHOT.


Film 'Negeri Tanpa Telinga' diharapkan menjadi arsip kebudayaan yang berguna bagi generasi mendatang. Lola bersyukur sekaligus tak khawatir mengangkat tema yang mungkin cukup sensitif bagi beberapa pihak yang tersentil.


"Justru media lebih berani," tegasnya di berbagai kesempatan.


(ich/mmu)