Rio Dewanto: Bila Soeharto Difilmkan, Semoga Ada Sutradara Ingat Saya

Nama Rio Dewanto terus menghiasi pemberitaan media massa tak hanya berkat kiprahnya di layar lebar, tapi juga karena hubungan asmaranya dengan aktris cantik Atiqah Hasiholan. Pernikahan mereka di Pulau Seribu beberapa waktu lalu mendapat sorotan luas kamera infotainment. Menikah dengan perempuan satu profesi tentu memberi keuntungan tersendiri bagi Rio. Apa itu? Berikut adalah bagian kedua dari wawancara eksklusif kontributor detikHOT, pengamat perfilman Indonesia Shandy Gasella:

Apa kontribusi paling besar yang pernah diberikan oleh Atiqah Hasiholan terhadap karier kamu sebagai aktor? Kalian kerja bareng-bareng nggak sih untuk mendapatkan peran?


Ya, kami selalu kerja bareng untuk dapetin peran, meskipun itu bukan untuk film yang kami harus berdua jadi pemerannya. Misalnya Atiqah dapat peran, kami pasti latihan bareng, kami bikin video, lalu kami coba bahas berdua. Apalagi pada saat kami dapat peran bareng, itu lebih enak lagi karena kan kami sama-sama tahu jalan ceritanya, kami tahu bagaimana penggarapannya, treatment sutradaranya seperti apa, kami sama-sama tahu.


Ada nggak peran tertentu yang pernah lepas dari incaran? Peran yang kamu pengen banget, tapi sayangnya kamu nggak di-cast untuk peran itu?


Sejauh ini belum ada sih. Tapi ada satu peran yang gue pengen banget, karena gue suka cerita biografi, gue pengen mainin mantan presiden kita Soeharto. Jadi benar-benar menarik buat gue itu karena perjalanan hidup dia, perjalanan karier dia sampai dia menjadi presiden lalu diturunkan, dan kemudian dia meninggal, itu semuanya menurut gue prosesnya gila. Mungkin karena gue hidup di zaman dia ya, gue ikut merasakan zaman itu, dan cerita itu kena ke gue. Kalau cerita tentang dia difilmkan, mudah-mudahan ada sutradara yang inget gue.


Apa yang paling kamu nikmati dalam berakting?


Semuanya. Prosesnya sih yang paling gue nikmatin. Apalagi pas syuting, biasanya gue kalau udah terlalu dekat banget suka sedih pas momen perpisahan. Makanya gue kadang-kadang suka nggak mau ketemu orang, gue soalnya benci sama perpisahan, ya meskipun pada akhirnya akan ketemu lagi. Kalau udah sangat kekeluargaan banget tuh kadang-kadang gue suka terlalu sedih untuk menyudahinya.


Bermain bareng Mickey Rourke, aktor kaliber Oscar, dalam 'Java Heat', apa yang kamu rasakan? Kamu termasuk penggemar dia?


Gue suka sih dengan Mickey Rourke, dia salah seorang aktor yang sangat baik. Bangga sih pasti bangga, cuma karena di film itu nggak ada adegan gue yang bareng sama dia jadi gue nggak punya kesempatan untuk bertanya-tanya sama dia. Di set sempat ketemu, itu juga bukan pada hari gue seharusnya syuting, gue datang karena gue pengen foto. Om Tio Pakusadewo tuh deket banget sama Mickey, kayaknya mereka masih sering kabar-kabaran juga deh. Gue tuh pengen tahu aja gimana sih proses dia berakting, gimana cara dia bermain, pengen ngobrol, cuma nggak ada kesempatan, jadi ya udahlah. Paling gue cuma dengar cerita dari Om Tio, terus dari Atiqah juga, kan dia ada scene yang bareng sama dia.


Apa tiga film favorit kamu?


'The Godfather', Star Wars', dan '2001 a Space Odyssey'. Gue nonton film itu waktu masih duduk di bangku SMP.


Kamu sudah bermain dalam banyak film, memerankan berbagai karakter yang berbeda-beda. Bermain di film mana yang paling membuka cakrawala sebagai aktor, yang pada akhirnya memberi pemahaman paling berharga tentang akting itu sendiri?


'?' sih. Itu film pertama gue dimana gue mendapatkan porsi peran yang cukup banyak. Berkat film itu gue banyak ketemu aktor yang sampai sekarang pun kami jadi sahabat seperti Reza Rahadian, Mas Agus Kuncoro, sampai sekarang pun kami masih kabar-kabaran. Di film '?' itu istilahnya gue menancapkan bendera gue di dunia perfilman indonesia, dan pada saat itu juga gue harus bisa menjadi aktor yang baik.


Dalam film kamu berikutnya 'Love and Faith' kamu berperan sebagai Kwee Tjie Hoei, tokoh nyata keturunan Tionghoa. Sebelumnya kamu juga pernah berperan sebagai tokoh keturunan Tionghoa dalam '?' sebagai Hendra. Kamu nggak memandangnya sebagai hal yang stereotip karena mata kamu sipit? Apa tanggapan kamu?


Mungkin ketika gue mengambil sebuah film yang secara berturut-turut dengan karakter yang sama secara ras dan suku, mungkin itu akan menjadi stereotip. Film '?' gue syuting tahun 2010 dan film 'Love n Faith' tahun 2014. Dari 2010 hingga 2014 udah ada banyak film gue yang gue berperan bukan sebagai orang Tionghoa. Nah, mungkin ketika saat sekarang ada film yang meminta gue untuk jadi orang Tionghoa lagi, mungkin gue nggak akan ambil peran itu, dan akan jadi pertimbangan yang cukup besar buat gue. Itu dia karena jaraknya cukup panjang dari perjalanan karier gue juga udah menunjukkan beberapa film gue yang memang bukan menjadi suku yang sama gitu. Ya mudah-mudahan sih penonton nggak mikir itu, atau para sutradara juga nggak mikir itu, bahwa gue adalah karakter yang stereotip. Males juga kan dianggap begitu, jadi ruang bergerak untuk berkembang itu kayak dibatasin.


(mmu / mmu)