Buku tersebut berjudul 'I Am Malala', dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa lain di seluruh dunia sejak Oktober 2013. Kini, seperti dilansir Guardian, Malala berbicara mengenai buku kisah perjuangannya tersebut.
"Saya pikir ketika seorang gadis tidak diperkenankan untuk mendapatkan pendidikan maka gadis itu menghadapi begitu banyak masalah. Dia tidak menyadari hak-haknya sendiri maka dia kehilangan identitasnya," paparnya.
Menurut Malala, seorang gadis di Pakistan bisa saja menghadapi pernikahan dini atau bekerja di bawah usia. Namun mereka tidak mengetahui itu adalah kejahatan.
"Ketika saya masih muda, saya terbiasa mendengarkan orang lain dan mencoba memahami apa yang mereka pikir dan di mana mereka berasal. Aku mendengarkan dan tidak berbicara. Tapi kemudian ayah saya mendorong agar saya mengatakan apa yang ingin saya inginkan," ungkapnya.
Kisah perjuangannya dalam bidang pendidikan dan memperjuangkan hak-hak perempuan dituangkannya dalam buku tersebut. Perempuan berusia 16 tahun itu tetap meneruskan perannya selama tinggal di Inggris. Tahun lalu, ia juga disebut-sebut sebagai calon pemenang Nobel Perdamaian.
Siapakah aktivis yang menjadi inspirasinya? Malala mengatakan, ia menyukai wanita inspirasional Benazir Bhutto.
"Ada beberapa hal yang orang tidak suka tentang dia sebagai politisi, tapi dia menunjukkan kepada orang-orang di seluruh dunia bahwa dia memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin dan perdana menteri. Dia memberikan saya harapan bahwa saya dapat melakukan hal yang sama di masa depan," papar Malala.
(tia/mmu)