Dilansir dari Blouin ARTINFO, Senin (16/3/2015), Chen adalah seorang penulis seni dan mantan manajer Singapura Sculpture Square yang baru saja memulai debutnya sebagai sutradara tahun lalu. Ia memulainya dengan film berjudul 'Uli Sigg, China’s Art Missionary'. Mengapa Chen memilih Hong Djien asal Magelang?
Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan Hong Djien adalah kolektor yang mengabdi terhadap dunia seni rupa Indonesia. Ia mulai berpikir ingin mengangkat sosoknya sejak 2009 silam.
"Tapi mungkin saja aku bisa menemukan tokoh lainnya yang mewakili seni rupa Asia. Kebanyakan kolektor cenderung fokus pada satu artis atau kelompok tertentu tapi hanya sedikit yang mau mengoleksi seniman beragam," katanya.
Baca Juga: Karya Seni Eko Nugroho Terjual Rp 4,4 Miliar di Art Basel Hong Kong
Film dokumenter 'The 24 Hour Art Practice' mengungkapkan cerita tentang kolektor Hong Djien yang sangat senang berbagi koleksi pribadinya. Serta berpikir museum adalah cara yang terbaik untuk memelihara lukisan dan berbagi pengetahuan.
"Film ini memiliki reaksi emosional dan banyak yang tak sependapat dengan film dokumenter buatan saya. Dan saya sudah mendokumentasikannya sebelum skandal koleksi lukisan palsu Hong Djien," tuturnya.
'The 24 Hour Art Practice' ditampilkan di Hong Kong Arts Centre pada 15 Maret lalu bertepatan dengan art fair yang sedang diadakan di sana. Diikuti diskusi dengan narasumber Ong Hong Djien.
(tia/tia)
